SEMOGA BLOG INI BERMANFAAT BAGI SEMUA PENGUNJUNG
Showing posts with label Kisah Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Kisah Motivasi. Show all posts

Sunday, 5 April 2015

Istri Sholehah ? Keluarga Sholeh pula

Anak yang shalih berawal dari didikan ibu yang shalihah … Ini menunjukkan pentingnya memiliki istri seperti itu.
Seorang pengajar al-Quran di sebuah masjid mengisahkan:
seorang anak kecil mendatangiku. Dia ingin mendaftar di halaqah Alquran yang aku bina. Aku menanyainya
“apa kamu hafal beberapa ayat alquran?”

“iya”
“coba sekarang bacakan aku beberapa surat di juz amma ya.”
dia pun membacanya.
“apa kamu hafal surat tabarak (almulk -ed)?”
“iya.”
Aku pun kagum dgn hafalannya pada usia yang masih belia ini.
“apa kamu hafal an-nahl?”
“iya”
bertambah kekagumanku padanya. kemudian aku tanyakan tentang surat-surat panjang.
“apa kamu hafal albaqarah?”

Monday, 8 December 2014

DEMI SELEMBAR KERTAS BERTULISKAN SELAMAT ULANG TAHUN DI PUNCAK MERBABU



Untuk seseorang yang spesial sebut saja CINTA

tulisan yang aku bawa
Bermula berawal dari temen-temen HUMAS yang rencananya akan mengadakan RIHLAH (refreshing) atau bisa juga jalan-jalan lah karena lelah dengan proker2nya. Mereka merencanakan untuk naik gunung merbabu pada hari rabu tgl 26/11/2014. Mereka rencana akan naik 4 orang karena anggota HUMAS cuma segitu. Langsung aja deh gak usah bertele2 ceritanya kemudian ane di ajak mereka biar tambah rame gitu. Ane mikir2 dulu sebab dulu CINTA pernah bilang ke ane jangan naik gunung, ane kemudian bilang gak ikut tapi mereka tetap memaksa ane untuk ikut. Besoknya ane dapat pemikiran untuk memberikan kejutan buat CINTA ya walau CINTA dulu pernah bilang gak ngebolehin sih tapi ane berpikir ini kan demi CINTA juga karena ane bingung tgl 09/12/2014 CINTA itu ulang tahun men. Ya udah akhirnya ane putuskan untuk ikut. Setelah itu ane bingung lagi mau ngasi kejutan apa ya, ane mikir2 dan akhirnya ketemu juga apa itu lihat aja nanti, sampek tgl 26 tiba. Jam 06.00 ane berangkat ke masjid untuk rapat kabid rutinan sampek jam setengah 9. Kemudian ane pergi ke sekret untuk membuat tulisan SELAMAT ULANG TAHUN.

Jadi nanti ane naik gunung membawa tulisan ini dan kemudian ane foto dipuncak dengan nunjukin tulisan itu, mungkin so sweet hehehe. Tapi ane gak tau gimana cara berikan kejutan ini ke CINTA karena dia kan gak ngebolehin naik gunung. Ane bingung, ya udah ane tulis ini diblog aja mungkin ya. Maaf ya kemarin aku gak ngomong pas naik gunung soale aku pengen ngasi kejutan, kalo ngomong ntar gak jadi kejutan lagi dong. Aku minta maaf, aku ngelakuin ini karena aku sayang banget ma kamu dan pengen lihat kamu seneng. aku minta maaf gak bisa ngasi kejutan yang bagus n so sweet seperti khusnul, anam, ataupun temen2mu yang lainnya. Mungkin Cuma ini yang bisa aku lakuin semoga kamu suka. maaf kalo da kata2nya yg kurang pas dan juga maaf kalo menurutmu ini jelek.

Selamat Ulang Tahun sayangku, semoga dengan bertambahnya umur ini sampean menjadi lebih dewasa, dapat menggapai cita2mu, membahagiakan ortumu, kuliah yang rajin. semoga juga ortumu lebih cepet untuk merestui hubungan kita hehehe. aamiin. semoga gak ngambekan trus yaa. dan dikabulkan segala doa yang engkau panjatkan. semoga juga tambah rajin ngajinya, puasanya, taat agamanya. mungkin cuma ini saja yang dapat saya kasih ke sampean. maaf gak bisa ngasi kejutan apa2.
  
MUNGKIN INI SAJA YANG AKU DAPAT KEMARIN DARI PUNCAK GUNUNG MERBABU

Akhmad Khozinul Asror

 
 



ASLI TULISAN KU SENDIRI LHO DAN CERITAKU SENDIRI HEHEHE
 

Tuesday, 23 September 2014

Kisah Qurban Bu Sumi yang Menggetarkan Hati



 
Makin dekat dengan Idul Adha, semakin banyak orang yang mengunjungi stan daganganku. Sebagian hanya melihat-lihat, sebagian lagi menawar dan alhamdulillah tidak sedikit yang akhirnya membeli. Aku menyukai bisnis ini, membantu orang mendapatkan hewan qurban dan Allah memberiku rezeki halal dari keuntungan penjualan.
Hingga datanglah seorang ibu yang kemudian menggetarkan imanku dan membuatku tak bisa menahan air mata. Semula, aku berpikiran ibu ini hanya akan melihat-lihat saja. Karena dari penampilannya, aku menduga ia bukanlah tipe orang yang mampu berqurban. Meski demikian, sebagai pedagang yang baik aku harus tetap melayaninya.
“Silahkan Bu, ada yang bisa saya bantu?” sapaku seramah mungkin“Kalau kambing itu harganya berapa, Pak?” tanyanya sambil menunjuk seekor kambing yang paling murah.
“Itu 700 ribu Bu,” tentu saja harga itu bukan tahun ini. Kisah ini terjadi beberapa tahun yang lalu. Kalau harga kambing qurban tahun ini, paling murah sekitar 1,5 juta. Yang agak besar 2,5 juta
“Harga pasnya berapa? Meskipun aku belum yakin ibu tersebut akan membelinya, minimal ia telah menunjukkan minatnya terhadap kambingku. “Bolehlah 600 ribu, Bu. Itu untungnya sangat tipis. Buat ibu, bolehlah kalau ibu mau”
“Tapi, uang saya Cuma 500 ribu, Pak. Boleh?” kata ibu itu dengan penuh harap. Keyakinanku mulai berubah. Ibu ini benar-benar serius mau berqurban. Mungkin hanya tampilannya saja yang sederhana tapi sejatinya ia bukanlah orang miskin. Nyatanya ia mampu berqurban.
“Baik lah, Bu. Meskipun tidak mendapat untung, semoga ini barakah,” jawabku setelah agak lama berpikir. Bagaimana tidak, 500 ribu itu berarti sama dengan harga beli. Tapi melihat ibu itu, aku tidak tega menolaknya.
Aku pun kemudian mengantar kambing itu ke rumahnya. “Astaghfirullah… Allaahu akbar…” Aku terperanjat. Rumah ibu ini tak lebih dari sebuah gubuk berlantai tanah. Ukurannya kecil, dan di dalamnya tidak ada perabot mewah. Bahkan kursi, meja, barang-barang elektronik, dan kasur pun tak ada. Hanya ada dipan beralas tikar yang kini terbaring seorang nenek di atasnya. Rupanya nenek itu adalah ibu dari wanita yang membeli kambing tadi. Mereka tinggal bertiga dengan seorang anak kecil yang tak lain adalah cucu nenek tersebut.
“Emak, lihat apa yang Sumi bawa” kata ibu yang ternyata bernama Sumi itu. Yang dipanggil Emak kemudian menolehkan kepalanya, “Sumi bawa kambing Mak. Alhamdulillah, kita bisa berqurban”
Tubuh yang renta itu duduk sambil menengadahkan tangan. “Alhamdulillah… akhirnya kesampaian juga Emak berqurban. Terima kasih ya Allah…”
“Ini uangnya Pak. Maaf ya kalau saya nawarnya terlalu murah, karena saya hanya tukang cuci di kampung sini, saya sengaja mengumpulkan uang untuk membeli kambing buat qurban atas nama Emak….” kata Bu Sumi.
Kaki ini bergetar, dada terasa sesak, sambil menahan tetes air mata, saya berdoa dalam hati, “Ya Allah… Ampuni dosa hamba, hamba malu berhadapan dengan hamba-Mu yang pasti lebih mulia ini, seorang yang miskin harta namun kekayaan imannya begitu luar biasa”.
“Pak, ini ongkos kendaraannya…”, panggil ibu itu
.“Sudah bu, biar ongkos kendaraannya saya yang bayar”, jawabku sambil cepat-cepat berpamitan, sebelum Bu Sumi tahu kalau mata ini sudah basah karena karena tak sanggup mendapat teguran dari Allah yang sudah mempertemukan dengan hambaNya yang dengan kesabaran, ketabahan dan penuh keimanan ingin memuliakan orang tuanya.
“Untuk menjadi mulia, ternyata tak harus menunggu kaya. Untuk mampu berqurban, ternyata yang dibutuhkan adalah kesungguhan”
Bisa jadi saat ini kita jauh lebih kaya dari Bu Sumi. Rumah kita bukan gubuk, lantainya keramik. Ada kursi, ada meja, ada perabot hingga TV di rumah kita. Ada kendaraan. Bahkan, HP kita lebih mahal dari harga kambing qurban. Tapi… sudah sungguh-sungguhkah kita mempersiapkan qurban?



KLIK